Apa itu Nilai Buku: Pengertian, Analogi dan Cara Menghitungnya

pengertian nilai buku

Istilah nilai buku sebenarnya berasal dari praktek pencatatan akuntansi terhadap suatu aset setelah dikurangi penyusutan. Namun kali ini kita akan bahas dalam konteks aset atau saham. Dalam menilai aset ataupun sebuah saham perusahaan, dikenal 3 istilah harga atau nilai yang secara umum diakui keberadaannya dan seringkali digunakan dalam analisis.

Pertama, nilai buku (book value), yang kedua nilai pasar  atau harga pasar (market value) dan nilai intrinsik atau nilai yang sesungguhnya (intrinsic value). Pada kesempatan ini kita akan berdiskusi bersama tentang apa itu nilai buku.

Nah, nilai buku sering kali juga dikenal sebagai nilai perolehan dari aset setelah dikurangi penyusutan atau dalam konteks perusahaan nilai bersih yang dimiliki oleh perusahaan setelah dikurangi dengan seluruh kewajiban.

Nah, singkatnya nilai buku tidak selamanya atau bukan satu-satunya yang mencerminkan mahal atau murah suatu aset. Karena nilai buku bisa lebih rendah dari nilai pasar atau bahkan sebaliknya lebih tinggi dari nilai pasar. Kenapa itu bisa terjadi dan bagaimana cara yang fear bagi kita untuk menilai suatu aset, topik inilah yang akan kita diskusikan bersama.

Baca juga: Pengertian Investasi.

Bagaimana, apakah kamu sudah siap, jika demikian mari kita mulai pembahasannya, sebelum mulai jangan lupa untuk menyiapak minuman hangat dan camilan yang renyah serenyah pembahasan ini, cus…

Nilai Buku itu Apa sih?

Menurut pendapat Eduardus Tandelilin (2010:301), nilai buku adalah: “Nilai yang dihitung berdasarkan pembukuan perusahaan penerbit saham (emiten)”.

Dikutip dari laman investopedia.com, nilai buku merpakan nilai aktiva bersih (NAB) suatu perusahaan, dihitung sebagai total asetnya dikurangi aset tidak berwujud (paten, niat baik) dan kewajiban.

Sedangkan kutipan yang diambil dari laman thebalancemoney.com, Nilai buku suatu aset adalah nilai aset itu pada “pembukuan” (buku akuntansi dan neraca) suatu perusahaan atau dikenal juga  sebagai nilai buku bersih setelah memperhitungkan penyusutan.

Dalam konteks menilai sebuah saham, nilai buku merupakan selisih antara total aset dengan kewajiban perusahaan dan sifatnya berubah-ubah sesuai perubahan aset dan kewajiban perusahaan. Umumnya sih nilai buku suatu saham naik dari waktu ke waktu.

Baca juga  12 Goods Habbit ini Akan Bantu Kamu Lebih Cepat Meraih Kebebasan Finansial

Sehingga dapat digarisbawahi bahwa pengertian nilai buku adalah nilai aset bersih perusahaan setelah dikurangi kewajiban/hutang, dalam konteks per lembar saham dihitung dengan membagi nilai ekuitas dengan jumlah saham yang akan menghasilkan angka nilai buku per saham.

Baca juga: Metode Dollar Cost Averaging dalam Investasi.

Bagaimana Menghitung Nilai Buku?

Diatas kita sudah mengenal yang namanya nilai buku atau nilai aset bersih suatu perusahaan. Jadi untuk melakukan perhitungan sebenarnya caranya sederhana, kita cukup mengurangi dengan kewajiban dari perusahaan.

Dalam konteks saham, nilai buku biasanya dinyatakan dalam satuan mata uang sehingga di Indonesia dinyatakan dalam satuan rupiah.

Kita akan ambil contoh kasus yang real dalam perusahaan yang telah melantai dibursa, data diambil dari laporan tahunan atau anual report tahun 2021 PT. Arwana Citramulia, Tbk.

Sumber: Website PT Arwana Citramulia, Tbk
Sumber: Website PT Arwana Citramulia, Tbk

Berdasarkan data yang disajikan pada Laporan Tahunan, jumlah ekuitas dari ARNA tahun 2021 adalah sebesar Rp1.573.169.882.477 sedangkan liabilitas atau hutang sebesar Rp670.353.190.326, sehingga total aset dan liabilitas sebesar Rp2.243.523.072.803.

Disclaimer: Penyebutan nama perusahaan hanya untuk keperluan edukasi dan ilustrasi semata bukan ajakan beli atau jual saham perusahaan, dan tidak sedang berafiliasi dengan perusahaan manapun.

 

Bagaimana menghitung Book Value per Saham

Masih menggunakan ilustrasi perusahan yang sama, bahwa diketahui jumlah ekuitasnya sebesar Rp.1.573.169.882.477, dan untuk menghitung book value atau nilai buku per saham kita perlu mengetahui jumlah saham beredar dari perusahaan tersebut.

Dalam ilustrasi ini, jumlah saham beredar dari ARNA adalah 7.341.430.976 lembar (sumber: Annual Report).

Untuk menghitung nilai buku per lembar saham kita memerlukan 2 informasi yaitu jumlah ekuitas dan jumlah saham beredar. Sedangkan rumus perhitungan adalah sebagai berikut:

Nilai Buku      = Jumlah Ekuitas / Jumlah Saham Beredar

= Rp.1.573.169.882.477 / 7.341.430.976

= Rp214,2865

Dengan demikian, dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai buku dari saham ARNA adalah Rp214,28.

Sedangkan untuk melihat valuasi kita bisa juga menghitung rasio nilai buku terhadap harga saham (harga pasar saham) sehingga dinyatakan dalam satuan x (kali). Misalnya dalam kasus ARNA ini, harga penutupan saham pada tahun 2021 adalah Rp800,- harga tertinggi Rp885,- dan harga terendah Rp625,- (Annual Report).

Baca juga  Mari Terapkan 5 Strategi Mencapai Kebebasan Finansial di Tahun Baru!

Nah, untuk menghitung berapa rasio harga saham terhadap nilai buku maka rumus matematikanya adalah sebagai berikut:

Rasio Harga terhadap Nilai Buku (PBV : Price Book Value) = Harga Saham  / Nilai Buku atau dapat disederhanakan sebagai berikut “PBV = Harga Saham / Nilai Buku “

Masih menggunakan kasus ARNA, diketahui data sebagai berikut:

Harga Saham (penutupan) Rp800

Nilai Buku Rp214,28

Hitunglah rasio harga terhadap nilai buku saham tersebut:

PBV     = Harga / Nilai Buku

= Rp800 / Rp214,28

= 3,7 kali

Maka dapat kita simpulkan bahwa rasio harga nilai buku dari saham ARNA adalah 3,7 kali atau dengan kata lain bahwa saham ARNA dihargai oleh pasar sebesar 3,7 kali dari nilai bukunya atau lebih besar dari nilai bukunya.

Baca: Konsep Margin of Safety dalam Investasi.

 

Interpretasi Rasio Harga Nilai Buku (Price Book Value = PBV)

Dalam melakukan analisis atau valuasi terhadap saham, investor seringkali menggunakan rasio PBV dalam memvaluasi sebuah saham. Umumnya, saham-saham yang bergerak pada industri properti, financial, pertambangan, consumer ataupun energi, bisa kita gunakan rasio PBV.

Akan tetapi jika perusahaan berbasis teknologi yang asetnya lebih banyak tidak berwujud, maka valuasi dengan PBV dirasakan kurang tepat. Oleh karena itu, sebagai investor, kitak bisa mengatakan bahwa rasio PBV lebih dari 1.0 kali langsung dikatakan mahal atau jika dibawah 1.0 dikatakan murah, karena rasio dari PBV itu seringkali dikenal dengan relatif valuation (relatif).

Yang namanya relatif dapat dibandingkan dengan saham disektor atau industri yang sama atau sejenis dan dibandingkan rasio pada saham itu sendiri secara periodik atau dimasa lalu.

Nah, demikian halnya juga dengan rasio PBV, kita memang dapat mengatakan bahwa valuasi > 1.0 memang cenderung lebih tinggi dari nilai bukunya, sektoral atau secara industri. Coba bandingkan juga secara periodik misalnya 3 tahun kebelakang atau 5 tahun kebelakang, jika time horizon Anda lebih panjang.

Sumber: Stockbit.com
Sumber: Stockbit.com

Sebagai contoh masih kasus ARNA, jika kita bandingkan secara periodik yaitu 3 tahun kebelakang, maka rata-rata rasio PBV standard deviation ARNA berada pada 3,85 kali atau pada rentang harga Rp700 per lembar.

Baca juga  Apa itu Bunga Majemuk dan Bagaimana Memanfaatkannya di Instrumen Reksa Dana?

Berdasarkan data ini dirilis yaitu 4 Oktober 2022, ARNA diperdagangkan pada PBV 4,72 kali atau dengan kata lain berada pada +1 PBV Standard Deviation dan tertinggi pada +2 PBV Standard Deviation 5,58 kali yang terjadi sekitar bulan juni 2022.

Sedangkan untuk -1 PBV Standard Deviation 2,99 kali atau diatas Rp520 per lembar yang terjadi pada Desember 2021.

Angka pada rasio PBV pada saat itu tidak serta merta mencerminkan harga saham dimasa mendatang, karena harga saham sangat tergantung pada kinerja keuangan (profitabilitas) saham itu dan seberapa baik pelaku pasar menghargai saham itu.

Selain itu, ada juga momentum atau daya ungkit lain yang dapat mengangkat atau menggerek harga saham sehingga semakin melambung tinggi. Tentunya tidak dapat dijelaskan satu persatu disini karena akan menimbulkan tafsir yang berbeda-beda tergantung profil risiko investor, metode valuasi atau analisis serta margin of safety atau margin keamanan yang ditentukan oleh investor. Pembahasan ini mungkin akan lebih cocok jika dilakukan terpisah dengan artikel ini.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa:

Nilai buku adalah nilai aset bersih perusahaan setelah dikurangi kewajiban/hutang, dalam konteks per lembar saham dalam satuan mata uang, yang dihitung dengan membagi nilai ekuitas dengan jumlah saham yang akan menghasilkan angka nilai buku per saham.

Jadi, Nilai buku merupakan selisih antara total aset dengan total kewajiban, sehingga seringkali di katakan sebagai nilai aset bersih (NAB) pada perusahaan. Adapula yang mengatakan bahwa nilai buku itu nilai ekuitas atau modal disetor oleh perusahaan.

Nilai buku mencerminkan nilai aset bersih dari sebuah emiten (perusahaan) dengan gambaran bahwa nilai kekayaan bersih setelah dikurangi seluruh kewajiban atau hutang perusahaan.

Nah, demikianlah ulasan singkat tentang nilai buku dari saham atau perusahaan terbuka yang diperdagangkan dalam bursa saham. Mudah-mudahan artikel ini dapat menjawab pertanyaan Anda. Jika merasa bermanfaat, silahkan bagikan di media sosial Anda agar lebih banyak yang memahami topik ini, atau jika Anda diskusi silahkan sampaikan dikolom komentar. Terima kasih.

 

Referensi:

https://arwanacitra.com/

https://arwanacitra.com/pdf/Annual_Report/Laporan_Tahunan_dan_Laporan_Keberlanjutan_2021_PT_Arwana_Citramulia_Tbk.pdf

https://www.investopedia.com/terms/b/bookvalue.asp

https://www.thebalancemoney.com/what-is-the-book-value-of-an-asset-398146

https://www.finansialku.com/definisi-book-value-atau-nilai-buku-adalah/

One Reply to “Apa itu Nilai Buku: Pengertian, Analogi dan Cara Menghitungnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *