Memahami Teori Asimetris Informasi Serta Hubungannya dengan Pasar Modal

Teori terbentuk dari aktivitas yang dilakukan secara terus menerus hingga akhirnya membentuk suatu pola yang dapat diterima dan berlaku secara universal. Meskipun teori tidak ada yang sempurna, dan akan selalu ada ruang untuk dikritisi, namun kenyataannya teori dasar diperlukan dalam mengambil keputusan, tidak terkecuali teori asimetri informasi serta kaitannya terhadap pasar modal khususnya saham.

Jamak diketahui bahwa teori ini sudah ada sejak tahun 1970, namun kian populer ketika pada tahun 2001 dimana tiga ekonomi (George Akerlof, Michael Spence, dan Joseph Stiglitz) berbagi hariah Nobel bidang ekonomi. nanti kita akan ceritakan seperti apa lengkapnya, dan FYI bahwa teori asimetri informasi ini hingga kini masih di gunakan dalam berbagai penelitian ilmiah, meskipun ada kebaruan yang dihasilkan, namun teori dasar ini masih sangat relevan.

Oke, agar tidak berlama-lama lagi, mari kita mulai pembahasan ini jadi kencangkan ikat pinggang Anda karena kit akan meluncur dengan kecepatan tinggi,…. salam satu frekuensi.

Daftar isi

Apa sih teori asimetris informasi?

Pertama kita perlu mengerti definisi dari teori asimetri informasi. Jadi Teori ekonomi informasi asimetris telah dikembangkan pada 1970-an dan 1980-an sebagai penjelasan yang masuk akal untuk kegagalan pasar (Nobelprize.org, 2001). Teori ini menjelaskan bahwa ketidakseimbangan informasi antara pembeli dan penjual bisa menyebabkan kegagalan pasar.

Kegagalan pasar, bagi para ekonom, berarti distribusi barang dan jasa yang tidak efisien di pasar bebas, di mana harga ditentukan oleh hukum penawaran dan permintaan.

Seperti dikutip dalam (Buku 3 Pasar Modal: 34), Asymmetric information merupakan perbedaan informasi yang didapat antara salah satu pihak dengan pihak lainnya dalam kegiatan ekonomi. Informasi asimetris ini misalnya terjadi antara investor yang akan melakukan investasi di dalam pasar modal. Investor harus mengetahui saham dengan baik sebelum investor tersebut melakukan investasi. Hal ini membuat investor akan mencari tahu saham dengan lengkap serta tepat untuk perusahaan agar mendapatkan capital gain di masa mendatang.

Namun, pencarian informasi tidaklah mudah. Beberapa investor justru mendapatkan informasi yang sangat minim mengenai saham di pasar modal. Hal ini dikarenakan agen perusahaan tidak mungkin memberikan kondisi perusahaan secara lengkap kepada publik. Informasi tersebut merupakan rahasia perusahaan yang diberikan kepada pihak terpercaya dan pada waktu yang tepat. Dalam menyikapi hal ini, investor yang cerdas akan mencari informasi kemudian melakukan analisis untuk mendapatkan gambaran yang tepat. Informasi yang didapat akan mengalami perbedaan antara investor dengan agen perusahaan, perbedaan inilah yang disebut sebagai asimetris informasi.

Baca juga  Invest in What You Know: Strategi Sederhana Peter Lynch dalam Memilih Saham Berkualitas

Asymmetric information tidak hanya terjadi pada pasar modal, namun industri – industri lain juga mengalaminya. Bahkan dalam segi hukum, informasi asimetris ini kemungkinan dapat terjadi. Terdapat dua bentuk dasar informasi asimetris yang dapat dibedakan. Pertama adalah Hidden Knowledge mengacu pada situasi di mana satu pihak memiliki informasi lebih lanjut dari pihak lain pada kualitas (atau “tipe”) dari barang yang diperdagangkan atau kontrak variabel. Kedua yakni Hidden Action adalah ketika salah satu pihak dapat mempengaruhi “kualitas” dari barang yang diperdagangkan atau kontrak variabel dengan beberapa tindakan dan tindakan ini tidak dapat diamati oleh pihak lain.

Jadi, ketidakseimbangan informasi ini terkadang menimbulkan gap, sehingga harga yang seharusnya lebih mudah namun sampai ke tangan konsumen (pembeli) dengan harga tinggi, itu semua karena mekanisme pasar.

 

Bagaimana Memahami Teori Informasi Asimetris

Diatas kita sudah jelaskan singkat tentang pengertian asimetri informasi yang mengakibatkan kegagalan pasar sehingga harga ditentukan oleh hukum permintaaan dan penawaran, nah berdasarkan definisi tersebut lantas kita mesti menggaris bawahi bahwa hal itu bisa terjadi dihampir semua pasar.

Maksudnya gimana tuh?

Jadi, Tiga ekonom sangat berpengaruh dalam mengembangkan dan menulis tentang teori informasi asimetris yaitu: George Akerlof, Michael Spence, dan Joseph Stiglitz. Ketiganya kemudian berbagi Hadiah Nobel di bidang ekonomi pada tahun 2001 atas kontribusi mereka (Akerlof, 2001) pada perekonomian dunia.

Akerlof pertama kali berdebat tentang asimetri informasi dalam makalah tahun 1970 berjudul “The Market for ‘Lemons’: Ketidakpastian Kualitas dan Mekanisme Pasar.” Dalam makalah tersebut, Akerlof menegaskan bahwa pembeli mobil memiliki informasi yang berbeda dari penjual mobil, memberikan insentif kepada penjual untuk menjual barang dengan kualitas buruk tanpa menurunkan harga untuk mengimbangi inferioritas (Akerlof, 1970).

Akerlof menggunakan istilah sehari-hari lemon untuk merujuk pada mobil yang buruk. Dia berpendapat bahwa pembeli sering tidak memiliki informasi untuk membedakan lemon dari mobil yang baik (Akerlof, 1970).

Dengan demikian, penjual mobil bagus tidak bisa mendapatkan harga pasar yang lebih baik dari rata-rata untuk produk mereka.

Argumen ini mirip dengan hukum Gresham tentang peredaran uang, yang berpendapat bahwa uang berkualitas buruk menang atas uang yang lebih baik. Teori itu telah menghadapi banyak pertentangan.

Singkatnya, ketidakseimbangan informasi ini kemudian mengakibatkan apa yang diketahui oleh penjual dan pembeli berbeda, hingga di pembeli kemudian sulit membedakan kesesuaian harga dengan value yang diperoleh.

Baca juga  Kisah Inspiratif Peter Lynch: Dari Caddy Golf hingga Legenda Investasi Dunia

 

Pertaruhan Perekrutan

Gak berhenti sampai disitu, bahwa diawal kita sudah sampaikan teori selalu memiliki ruang untuk dikritisi.

Pada tahun 1973, Michael Spence menambah perdebatan dengan makalahnya berjudul “Job Market Signaling.” Spence menyatakan bahwa karyawan baru adalah investasi yang tidak pasti untuk perusahaan mana pun. Artinya, pemberi kerja tidak dapat memastikan kemampuan produktif kandidat (Spence, 1973).

Spence membandingkan proses perekrutan dengan lotre. Dalam hal ini, Spence mengidentifikasi asimetri informasi antara pengusaha dan karyawan.

Meskipun berbeda secara anlogi, namun kedua hal ini memiliki hubungan terutama dalam hal investasi. Siapa sih yang bisa memastikan return investasi dimasa depan, oleh karenanya investor perlu melindungi diri dengan cara diversifikasi atau portofolio dan bukan satu (single).

 

Hubungan dengan Pasar Asuransi

Bagaimanapun, Stiglitz yang membawa asimetri informasi ke penerimaan arus utama. Dengan menggunakan teori market screening, ia menulis atau ikut menulis beberapa makalah, termasuk karya signifikan tentang asimetri di pasar asuransi.

Melalui karya Stiglitz, informasi asimetris ditempatkan ke dalam model keseimbangan umum yang terkandung untuk menggambarkan eksternalitas negatif yang memberi harga di bagian bawah pasar.

Misalnya, premi asuransi kesehatan yang diperlukan untuk melindungi individu berisiko tinggi menyebabkan semua premi naik, memaksa individu berisiko rendah menjauh dari polis asuransi pilihan mereka.

Ekonom lain, seperti Bryan Caplan di George Mason University, menunjukkan bahwa tidak semua orang benar-benar dalam kegelapan di pasar nyata. Perusahaan asuransi, misalnya gencar mencari jasa underwriting. Caplan juga menyarankan bahwa model yang didasarkan pada ketidaktahuan satu pihak cacat, mengingat ketersediaan informasi dari pihak ketiga seperti Laporan Konsumen, Laboratorium Penjamin Emisi, CARFAX, dan biro kredit (Caplan, 2004).

Ekonom Robert Murphy menyarankan bahwa intervensi pemerintah dapat mencegah harga mencerminkan informasi yang diketahui secara akurat, yang dapat menyebabkan kegagalan pasar (Murphy, 2010).

Misalnya, perusahaan asuransi mobil mungkin dipaksa untuk menaikkan semua premi secara merata jika tidak dapat mendasarkan keputusan harga pada jenis kelamin, usia, atau riwayat mengemudi pemohon.

Dengan demikian, teori asimetri informasi tidak hanya berlaku bagi pasar modal (saham) namun bisa terjadi dan berlaku dihampir semua aspek kehidupan yang melibatkan kedua belah pihak yang bertukar kepentingan yang menimbulkan transaksi.

 

Bukti dan Tantangan Empiris

Riset pasar selama bertahun-tahun telah mempertanyakan keberadaan atau durasi praktis teori asimetris informasi yang menyebabkan kegagalan pasar yang sangat serius. Analisis kehidupan nyata telah ditawarkan oleh para ekonom termasuk Erik Bond (untuk pasar truk, pada tahun 1982), Cawley dan Philipson (tentang asuransi jiwa, pada tahun 1999), Tabarrok (tentang kencan dan pekerjaan, pada tahun 1994), dan Ibrahimo dan Barros (pada struktur modal, pada tahun 2010).

Baca juga  Apa Itu Network Effect dan Bagaimana Membangun Economic Moat dengan Cara Ini?

Ada korelasi positif antara asuransi dan kejadian risiko telah diamati di pasar riil, adalah salah satu contohnya. Salah satu penjelasan yang mungkin yakni bahwa individu biasanya tidak memiliki informasi ahli tentang jenis risiko mereka sendiri, sementara perusahaan asuransi memiliki tabel kehidupan aktuaria dan secara signifikan lebih banyak pengalaman dalam memprediksi risiko.

Dikaitkan dengan market, terkadang setiap informasi yang ada bisa berpengaruh signifikan atau bahkan gak ada pengaruhnya terhadap pergerakan harga saham. Namun, tidak ada sesuatu yang pasti di pasar saham, karena apa yang terjadi dimasa lalu (historikal) belum tentu terjadi di masa depan.

 

Sumber Bacaan bagi Pembaca:

The Noble Prize. “Information for the Public: Markets with Asymmetric Information.” https://www.nobelprize.org/prizes/economic-sciences/2001/popular-information/

The Library of Economics and Liberty. “George A. Akerlof.” https://www.econlib.org/library/Enc/bios/Akerlof.html

The Quarterly Journal of Economics. “The Market for “Lemons”: Quality Uncertainty and the Market Mechanism,” Page 3. https://personal.utdallas.edu/~nina.baranchuk/Fin7310/papers/Akerlof1970.pdf

The Quarterly Journal of Economics. “The Market for “Lemons”: Quality Uncertainty and the Market Mechanism,” Pages 3-4. https://personal.utdallas.edu/~nina.baranchuk/Fin7310/papers/Akerlof1970.pdf

The Quarterly Journal of Economics. “Job Market Signaling,” Pages 3-4. https://tech.msu.edu/about/guidelines-policies/afs-retirement/

Bryan Caplan. “Rational ignorance.” The encyclopedia of public choice. Springer, 2004, Pages 793-795.

Robert P. Murphy. “Chaos Theory.” Ludwig von Mises Institute, 2010.

School of Economics and Management, Technical University of Lisbon. “Capital Structure, Risk and Asymmetric Information: Theory and Evidence.” https://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.935.5292&rep=rep1&type=pdf

ResearchGate. “A Direct Test of the “Lemons” Model: The Market for Used Pickup Trucks.” https://www.researchgate.net/publication/4723408_A_Direct_Test_of_the_Lemons_Model_The_Market_for_Used_Pickup_Trucks

American Economic Association. “An Empirical Examination of Information Barriers to Trade in Insurance.” https://www.aeaweb.org/articles?id=10.1257/aer.89.4.827

https://www.investopedia.com/ask/answers/042415/what-theory-asymmetric-information-economics.asp

Iklan

Melalui buku ini, Anda akan belajar bagaimana Membangun kekayaan Melalui Investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *