Apa itu Teori Konflik: Pengertian, Sumber, dan Cara Menyelesaikan Konflik dalam Organisasi

Konflik itu apa sih? Atau mungkin Kamu pernah mendengar atau bahkan mengatakan “ini bakal terjadi konflik”. Tetapi apakah sesungguhnya Kamu sudah mengetahui hal ini? Jika ya, maka Kamu  datang ke tempat yang tepat.

Konflik merupakan suatu keadaan di mana terdapat pertentangan, ketidaksesuaian, atau ketidakharmonisan antara dua atau lebih pihak yang saling mempengaruhi. Konflik bisa terjadi di berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam organisasi. Organisasi merupakan suatu sistem sosial yang terdiri dari individu-individu yang memiliki tujuan, nilai, kepentingan, dan harapan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, konflik dalam organisasi merupakan hal yang tidak bisa dihindari.

Konflik dalam organisasi bisa memiliki dampak positif maupun negatif, tergantung pada bagaimana konflik tersebut dikelola. Konflik yang dikelola dengan baik bisa meningkatkan kreativitas, inovasi, kualitas, dan produktivitas organisasi. Konflik yang dikelola dengan buruk bisa menurunkan motivasi, kepuasan, loyalitas, dan kinerja organisasi. Oleh karena itu, memahami teori konflik dan cara menyelesaikan konflik dalam organisasi merupakan hal yang sangat penting.

Dalam pembahasan ini, kita bakal belajar bersama tentang hal yang berkaitan dengan teori konflik dan penyelesaian konflik dalam organisasi, yaitu: Pengertian Teori Konflik, Sumber Konflik dalam Organisasi, Jenis Konflik dalam Organisasi, Tahapan Konflik dalam Organisasi, Cara Menyelesaikan Konflik dalam Organisasi.

Daftar isi

Pengertian Teori Konflik

Teori konflik merupakan sekumpulan teori yang menjelaskan peranan konflik, terutama di antara kelompok-kelompok dan kelas-kelas dalam kehidupan sosial masyarakat. Teori konflik menyatakan bahwa konflik timbul akibat adanya ketimpangan, ketidakadilan, atau ketidaksetaraan dalam distribusi sumber daya, status, dan kekuasaan antara kelompok-kelompok atau kelas-kelas dalam masyarakat. Konflik ini menjadi pendorong atau motor bagi perubahan sosial, baik yang bersifat revolusioner maupun evolusioner.

Beberapa tokoh yang mengembangkan teori konflik merupakan Karl Marx, Max Weber, Ralf Dahrendorf, Lewis Coser, dan George Simmel. Masing-masing tokoh memiliki pendekatan dan perspektif yang berbeda dalam memkamung konflik, namun secara umum mereka sepakat bahwa konflik merupakan suatu fenomena sosial yang universal, dinamis, dan berpotensi menghasilkan perubahan.

Sumber Konflik dalam Organisasi

Sumber konflik dalam organisasi merupakan faktor-faktor yang menyebabkan atau memicu terjadinya konflik antara individu, kelompok, atau departemen dalam organisasi. Sumber konflik dalam organisasi bisa dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Struktural, yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan desain, sistem, atau proses organisasi, seperti ketidakjelasan peran, tanggung jawab, atau wewenang; ketidaksesuaian sasaran, strategi, atau kebijakan; ketidakseimbangan sumber daya, imbalan, atau pengakuan; atau ketidakcocokan struktur, budaya, atau gaya kepemimpinan.
  2. Personal, yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan karakteristik, kepribadian, atau emosi individu, seperti perbedaan nilai, sikap, kepercayaan, atau preferensi; ketidakpuasan, frustrasi, atau stres; persaingan, iri, atau dengki; atau kurangnya komunikasi, kerjasama, atau kepercayaan.
  3. Lingkungan, yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan situasi, kondisi, atau peristiwa di luar organisasi, seperti perubahan pasar, teknologi, atau regulasi; tekanan kompetisi, pelanggan, atau pemasok; atau konflik sosial, politik, atau ekonomi.
Baca juga  Teori Manajemen Sumber Daya Manusia: Konsep, Fungsi, dan Aplikasi

Jenis Konflik dalam Organisasi

Jenis konflik dalam organisasi merupakan klasifikasi konflik berdasarkan pihak-pihak yang terlibat, sifat, atau dampaknya. Jenis konflik dalam organisasi bisa dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

  1. Konflik intrapersonal, yaitu konflik yang terjadi dalam diri individu, seperti konflik antara keinginan, kebutuhan, atau tujuan; konflik antara peran, harapan, atau tuntutan; atau konflik antara nilai, norma, atau etika.
  2. Konflik interpersonal, yaitu konflik yang terjadi antara dua atau lebih individu, seperti konflik antara atasan dan bawahan, rekan kerja, atau pelanggan.
  3. Konflik intragrup, yaitu konflik yang terjadi antara anggota-anggota dalam satu kelompok, seperti konflik antara pemimpin dan pengikut, anggota senior dan junior, atau anggota dengan fungsi atau spesialisasi yang berbeda.
  4. Konflik intergrup, yaitu konflik yang terjadi antara dua atau lebih kelompok, seperti konflik antara departemen, divisi, atau unit kerja; konflik antara organisasi induk dan anak perusahaan; atau konflik antara organisasi dan pihak eksternal, seperti pesaing, pemasok, atau pemerintah.

Tahapan Konflik dalam Organisasi

Tahapan konflik dalam organisasi merupakan urutan atau siklus konflik yang terjadi dari awal hingga akhir. Dalam organisasi bisa dibagi dalam lima tahap, yaitu:

  1. Tahap laten, yaitu tahap di mana sumber konflik sudah ada, tetapi belum terlihat atau dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat. Tahap ini biasanya berlangsung dalam waktu yang lama, sampai ada pemicu atau pendorong yang memunculkan konflik.
  2. Tahap persepsi, yaitu tahap di mana pihak-pihak yang terlibat mulai menyadari atau mengetahui adanya konflik. Tahap ini biasanya ditkamui dengan adanya perbedaan pkamungan, penbisa, atau sikap; adanya ketidakpuasan, ketegangan, atau ketidaknyamanan; atau adanya komunikasi yang buruk, salah paham, atau kontradiktif.
  3. Tahap manifestasi, yaitu tahap di mana konflik mulai terlihat atau terungkap dalam bentuk perilaku, sikap, atau komunikasi yang negatif. Tahap ini biasanya ditkamui dengan adanya perselisihan, pertengkaran, atau perdebatan; adanya kritik, hinaan, atau tuduhan; atau adanya boikot, sabotase, atau agresi.
  4. Tahap eskalasi, yaitu tahap di mana konflik semakin membesar, memburuk, atau menyebar. Tahap ini biasanya ditkamui dengan adanya polarisasi, koalisi, atau aliansi; adanya permusuhan, kebencian, atau permusuhan; atau adanya kekerasan, ancaman, atau intimidasi.
  5. Tahap resolusi, yaitu tahap di mana konflik diselesaikan, diseimbangkan, atau diakhiri. Tahap ini biasanya ditkamui dengan adanya dialog, mediasi, atau negosiasi; adanya kompromi, kolaborasi, atau integrasi; atau adanya rekonsiliasi, pengampunan, atau pemulihan.
Baca juga  Apa yang dimaksud dengan konsep pengorganisasian?

Cara Menyelesaikan Konflik dalam Organisasi

Cara menyelesaikan konflik dalam organisasi merupakan strategi atau taktik yang digunakan oleh pihak-pihak yang terlibat atau pihak ketiga untuk mengatasi, mengurangi, atau mengakhiri konflik dalam organisasi. Dalam organisasi, caranya bisa bervariasi tergantung pada jenis, sumber, tahap, dan dampak konflik. Beberapa cara menyelesaikan konflik dalam organisasi merupakan:

#1.Menghindari

Cara menyelesaikan konflik dengan mengabaikan, menunda, atau mengelak dari konflik. Cara ini bisa digunakan jika konflik bersifat ringan, sementara, atau tidak penting; jika konflik berpotensi menimbulkan risiko atau kerugian yang besar; atau jika konflik tidak bisa diselesaikan dengan cara lain.

Cara ini tentu saja bisa mengurangi ketegangan, emosi, atau eskalasi konflik, tetapi juga bisa menimbulkan ketidakpuasan, ketidakpastian, atau ketidakpercayaan.

#2.Mengakomodasi

Cara menyelesaikan konflik dengan mengalah, menurut, atau mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan pihak lain. Cara ini bisa digunakan jika konflik bersifat sepihak, tidak seimbang, atau tidak adil; jika konflik melibatkan pihak yang berkuasa, berpengaruh, atau berwenang; atau jika konflik bisa merusak hubungan yang penting atau berharga.

Cara ini dipercaya bisa meningkatkan kerjasama, kepercayaan, atau kewarganegaraan, tetapi juga bisa menurunkan motivasi, kepercayaan diri, atau kinerja.

#3.Bersaing

Cara menyelesaikan konflik dengan memenangkan, mendominasi, atau memaksakan kepentingan sendiri atas kepentingan pihak lain. Cara ini bisa digunakan jika konflik bersifat kompetitif, antagonis, atau bermusuhan; jika konflik melibatkan pihak yang lemah, tidak kooperatif, atau tidak rasional; atau jika konflik membutuhkan keputusan yang cepat, tegas, atau kritis.

Cara ini diyakini mampu meningkatkan kinerja, prestasi, atau kompetensi, tetapi juga bisa menimbulkan permusuhan, permusuhan, atau kekerasan.

#4.Berkompromi

Cara menyelesaikan konflik dengan mencari titik tengah, keseimbangan, atau kesepakatan yang bisa diterima oleh semua pihak. Cara ini bisa digunakan jika konflik bersifat moderat, simetris, atau proporsional; jika konflik melibatkan pihak yang setara, kooperatif, atau rasional; atau jika konflik membutuhkan keputusan yang praktis, efisien, atau adil.

Baca juga  Bagaimana Cara Mengevaluasi Efektivitas Program Pengembangan Karyawan?

Cara ini dipercaya mampu menghasilkan solusi yang cepat, mudah, atau sementara, tetapi juga bisa mengorbankan kualitas, kreativitas, atau inovasi.

#5.Berkolaborasi

Cara menyelesaikan konflik dengan mencari solusi yang optimal, integratif, atau bermakna yang bisa memenuhi kepentingan semua pihak. Cara ini bisa digunakan jika konflik bersifat kompleks, dinamis, atau substantif; jika konflik melibatkan pihak yang berbeda, beragam, atau kreatif; atau jika konflik membutuhkan keputusan yang berkualitas, inovatif, atau berkelanjutan.

Cara ini disinyalir bisa meningkatkan pemahaman, kesepakatan, atau kerjasama, tetapi juga membutuhkan waktu, usaha, atau sumber daya yang banyak.

Kesimpulan

Nah kita sekarang sudah sampai pada bagian akhir, jika kita rekap maka sudah membahas hal-hal berikut. Konflik merupakan suatu keadaan di mana terdapat pertentangan, ketidaksesuaian, atau ketidakharmonisan antara dua atau lebih pihak yang saling mempengaruhi. Konflik bisa terjadi di berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam organisasi. Konflik dalam organisasi bisa memiliki dampak positif maupun negatif, tergantung pada bagaimana konflik tersebut dikelola.

Dalam pembahasan ini, kita sudah mengulas beberapa hal yang berkaitan dengan teori konflik dan penyelesaian konflik dalam organisasi, yaitu pengertian teori konflik, sumber konflik dalam organisasi, jenis konflik dalam organisasi, tahapan konflik dalam organisasi, dan cara menyelesaikan konflik dalam organisasi.

Dengan memahami serta menerapkan teori konflik dan cara menyelesaikan konflik, kita bisa mengatasi, mengurangi, atau mengakhiri konflik dalam organisasi secara efektif dan efisien. Dengan demikian, kita bisa menciptakan dan mempertahankan iklim kerja yang harmonis, kooperatif, dan produktif.

 

Sumber:

Iklan

Melalui buku ini, Anda akan belajar bagaimana Membangun kekayaan Melalui Investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *