Teori Kepemimpinan Situasional: Definisi, Konsep, Gaya, dan Penerapannya

Kepemimpinan merupakan salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang dan organisasi. Seorang pemimpin yang baik harus mampu mengelola diri sendiri, orang lain, dan situasi yang dihadapi. Sayangnya, tidak ada satu gaya kepemimpinan yang cocok untuk semua kondisi dan konteks.

Ada kalanya seorang pemimpin harus fleksibel dan adaptif dalam mengubah gaya kepemimpinannya sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik bawahan atau pengikutnya. Inilah yang disebut dengan teori kepemimpinan situasional.

Teori kepemimpinan situasional dikembangkan oleh Kenneth Blanchard dan Paul Hersey pada tahun 1980-an. Teori ini mengusulkan bahwa seorang pemimpin harus menyesuaikan gaya kepemimpinannya berdasarkan tingkat kompetensi dan komitmen bawahan atau pengikutnya1. Teori ini juga dikenal sebagai model kepemimpinan adaptif, karena menekankan pada kemampuan seorang pemimpin untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah-ubah2.

Lalu, apa saja konsep, gaya, dan penerapan dari teori kepemimpinan situasional? Mari kita simak penjelasannya di bawah ini.

Daftar isi

Konsep Teori Kepemimpinan Situasional

Teori ini didasarkan pada dua konsep utama, yaitu gaya kepemimpinan dan tingkat kematangan bawahan atau pengikut. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin berinteraksi dengan bawahan atau pengikutnya dalam memberikan arahan, bimbingan, dukungan, dan umpan balik.

Tingkat kematangan bawahan atau pengikut adalah tingkat kemampuan dan motivasi mereka dalam melakukan tugas atau pekerjaan3.

Menurut Blanchard dan Hersey, ada empat gaya kepemimpinan situasional yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin, yaitu:

  • Mengarahkan atau telling (S1): Gaya ini digunakan ketika bawahan atau pengikut memiliki kompetensi rendah dan komitmen rendah. Pemimpin memberikan instruksi yang jelas dan spesifik, serta mengawasi secara ketat. Pemimpin membuat keputusan dan mengontrol situasi. Gaya ini mirip dengan gaya kepemimpinan otoriter3.
  • Menjual atau selling (S2): Gaya ini digunakan ketika bawahan atau pengikut memiliki kompetensi rendah dan komitmen tinggi. Pemimpin memberikan arahan yang persuasif dan menjelaskan alasan-alasannya. Pemimpin juga memberikan dukungan dan pujian. Pemimpin masih membuat keputusan, tetapi lebih terbuka untuk saran dan masukan. Gaya ini mirip dengan gaya kepemimpinan paternalistik3.
  • Berpartisipasi atau participating (S3): Gaya ini digunakan ketika bawahan atau pengikut memiliki kompetensi tinggi dan komitmen rendah. Pemimpin memberikan dukungan yang emosional dan membangun hubungan yang baik. Pemimpin juga mendorong bawahan atau pengikut untuk berbagi ide dan pendapat. Pemimpin dan bawahan atau pengikut membuat keputusan bersama. Gaya ini mirip dengan gaya kepemimpinan demokratis3.
  • Mendelegasikan atau delegating (S4): Gaya ini digunakan ketika bawahan atau pengikut memiliki kompetensi tinggi dan komitmen tinggi. Pemimpin memberikan otoritas dan tanggung jawab kepada bawahan atau pengikut. Pemimpin memberikan sedikit arahan dan dukungan. Pemimpin mempercayakan bawahan atau pengikut untuk membuat keputusan dan mengatasi masalah. Gaya ini mirip dengan gaya kepemimpinan laissez-faire3.
Baca juga  Teori Manajemen Sumber Daya Manusia: Konsep, Fungsi, dan Aplikasi

Penerapan Teori Kepemimpinan Situasional

Untuk menerapkan teori ini, seorang pemimpin harus dapat menilai tingkat kematangan bawahan atau pengikutnya, dan kemudian memilih gaya kepemimpinan yang sesuai. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin situasional2:

  • Tentukan kualitas pengalaman bawahan atau pengikut. Seorang pemimpin harus mengetahui seberapa lama, seberapa sering, dan seberapa baik bawahan atau pengikutnya melakukan tugas atau pekerjaan tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati, menguji, atau mewawancarai bawahan atau pengikut.
  • Pantau bawahan atau pengikut untuk pertumbuhan atau perubahan. Seorang pemimpin harus mengikuti perkembangan bawahan atau pengikutnya secara berkala, dan mengevaluasi apakah mereka membutuhkan arahan, dukungan, atau otoritas yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan umpan balik, mengadakan rapat, atau melakukan survei.
  • Biarkan bawahan atau pengikut mendapatkan lebih banyak masukan ke dalam peran pekerjaan mereka. Seorang pemimpin harus memberikan kesempatan kepada bawahan atau pengikutnya untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pengambilan keputusan, atau pemecahan masalah. Hal ini dapat meningkatkan komitmen, motivasi, dan kreativitas bawahan atau pengikut.
  • Berikan tingkat kematangan tertinggi ketika bawahan atau pengikut telah menunjukkan keterampilan yang tinggi, memperoleh pengalaman yang cukup, dan termotivasi untuk bekerja secara mandiri. Seorang pemimpin harus memberikan kepercayaan dan kebebasan kepada bawahan atau pengikutnya untuk mengelola tugas atau pekerjaan mereka sendiri. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas, kualitas, dan inovasi bawahan atau pengikut.

Apa perbedaan antara kepemimpinan situasional dan transformasional?

  • Kepemimpinan situasional adalah gaya kepemimpinan yang menyesuaikan diri dengan tingkat kompetensi dan komitmen bawahan atau pengikut.┬áKepemimpinan situasional menggunakan empat gaya, yaitu mengarahkan, menjual, berpartisipasi, dan mendelegasikan, tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi1.
  • Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang memberikan visi dan inspirasi kepada bawahan atau pengikut untuk mencapai hasil yang luar biasa.┬áKepemimpinan transformasional menggunakan empat faktor, yaitu pengaruh ideal, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual, untuk mengubah, mempengaruhi, dan membimbing bawahan atau pengikut2.
Baca juga  10 Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan oleh Manajer dan Cara Menghindarinya

Singkatnya, kepemimpinan situasional lebih berfokus pada penyesuaian gaya kepemimpinan dengan situasi, sedangkan kepemimpinan transformasional lebih berfokus pada pengembangan visi dan motivasi bawahan atau pengikut.

Menilai tingkat kematangan bawahan atau pengikut

Seorang pemimpin harus dapat mengetahui seberapa lama, seberapa sering, dan seberapa baik bawahan atau pengikutnya melakukan tugas atau pekerjaan tertentu agar bisa menilai bawahan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati, menguji, atau mewawancarai bawahan atau pengikut.

Selain itu, seorang pemimpin juga harus memperhatikan tingkat kemampuan, motivasi, komitmen, dan kepercayaan diri bawahan atau pengikutnya dalam melakukan tugas atau pekerjaan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan umpan balik, mengadakan rapat, atau melakukan survei.

Menurut teori kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard, ada empat tingkat kematangan bawahan atau pengikut, yaitu:

  • M1: Bawahan atau pengikut yang tidak mampu dan tidak mau atau tidak yakin. Mereka membutuhkan arahan yang jelas dan spesifik, serta pengawasan yang ketat dari pemimpin.
  • M2: Bawahan atau pengikut yang tidak mampu tetapi mau. Mereka membutuhkan arahan yang persuasif dan penjelasan alasan-alasannya, serta dukungan dan pujian dari pemimpin.
  • M3: Bawahan atau pengikut yang mampu tetapi tidak mau atau kurang yakin. Mereka membutuhkan dukungan yang emosional dan hubungan yang baik, serta dorongan untuk berbagi ide dan pendapat dari pemimpin.
  • M4: Bawahan atau pengikut yang mampu dan mau atau yakin. Mereka membutuhkan otoritas dan tanggung jawab, serta kepercayaan dan kebebasan dari pemimpin.

Seorang pemimpin harus dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan tingkat kematangan bawahan atau pengikutnya, agar dapat memberikan motivasi, kinerja, dan kepuasan yang optimal.

Kesimpulan

Teori kepemimpinan situasional merupakan teori yang mengusulkan bahwa seorang pemimpin harus menyesuaikan gaya kepemimpinannya berdasarkan tingkat kompetensi dan komitmen bawahan atau pengikutnya. Teori ini didasarkan pada dua konsep utama, yaitu gaya kepemimpinan dan tingkat kematangan bawahan atau pengikut.

Baca juga  Kepemimpinan Transformasional: Membangun Tim yang Kuat dan Berdaya Saing

Ada empat gaya kepemimpinan situasional yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin, yaitu mengarahkan, menjual, berpartisipasi, dan mendelegasikan. Untuk menerapkan teori ini, seorang pemimpin harus dapat menilai tingkat kematangan bawahan atau pengikutnya, dan kemudian memilih gaya kepemimpinan yang sesuai.

Dengan menerapkan teori ini, seorang pemimpin dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam mengelola bawahan atau pengikutnya.

Iklan

Melalui buku ini, Anda akan belajar bagaimana Membangun kekayaan Melalui Investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *