Apa itu Teori Efisiensi Pasar: Hipotesis, Bentuk, dan Bukti Empiris

Apakah Anda pernah mendengar tentang pasar yang efisien? Atau mungkin pernah mendengar semacam teori efisiensi pasar? Atau justru Anda sudah familiar dengna teori ini, hayo ngaku? Nah, apa itu sebenarnya pasar efisien itu dan bagaimana mengenali cirinya.

Oke, dalam pembahasan kali ini kita akan coba belajar bersama tentang pasar efisien dan bagaimana teori ini bekerja, serta bagaimana dengan bukti empirisnya.

Teori efisiensi pasar merupakan teori yang mengasumsikan bahwa harga pasar mencerminkan semua informasi yang tersedia mengenai aset finansial, seperti saham atau obligasi. Hal ini berarti harga pasar dari suatu aset secara efisien mencerminkan seluruh informasi yang bisa diakses oleh para investor pada saat itu.

Teori ini sejatinya mempunya implikasi penting dalam strategi investasi. Jika pasar efisien, maka tidak akan ada cara untuk “mengalahkan” pasar karena tidak ada sekuritas yang nilainya terlalu rendah atau terlalu tinggi.

Hal ini mengindikasikan, tidak akan ada peluang arbitrase yang bisa dimanfaatkan oleh investor guna menbisakan keuntungan yang konsisten. Akhirnya, investor hanya bisa mengharapkan tingkat return yang sesuai dengan tingkat risiko yang mereka ambil.

Pertanyaan kritisnya, apakah teori ini benar-benar berlaku di dunia nyata? Gimana caranya kita bisa menguji efisiensi pasar? Apa saja bentuk efisiensi pasar yang berbeda? Dan apa saja bukti empiris yang mendukung atau justru bertentangan dengna teori ini?

Dalam pembahasan kali ini, kita akan belajar bersama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, jadi mari kita mulai.

Daftar isi

Hipotesis Efisiensi Pasar

Teori efisiensi pasar pertama kali dikemukakan oleh Eugene Fama pada tahun 1960-an. Fama kemudian mengusulkan sebuah hipotesis yang disebut sebagai hipotesis efisiensi pasar (market efficiency hypothesis).

Hipotesis ini menyatakan bahwa harga pasar dari suatu aset finansial mencerminkan semua informasi yang tersedia pada saat itu, baik informasi publik maupun informasi yang bersifat privat.

Hipotesis ini tentu didasarkan pada sejumlah asumsi, diantaranya:

  • Para investor bersikap rasional dan berusaha memaksimalkan kekayaan mereka.
  • Para investor memiliki akses yang sama terhadap informasi yang tersedia di pasar.
  • Para investor bereaksi cepat dan akurat terhadap informasi baru yang masuk di market.
  • Tidak ada biaya transaksi atau pajak yang mempengaruhi keputusan investasi.
  • Tidak ada peraturan atau pembatasan yang menghambat perdagangan di market.

Dengan demikian, apabila asumsi-asumsi diatas terpenuhi, maka harga pasar akan selalu mencerminkan nilai wajar dari suatu aset finansial. Hal ini menyiratkan bahwa investor tidak bisa memprediksi pergerakan harga di masa depan hanya bermodalkan informasi masa lalu atau informasi saat ini. Investor juga tidak akan memperoleh keuntungan abnormal dengan menggunakan informasi privat yang tidak diketahui oleh orang lain.

Bentuk-Bentuk Efisiensi Pasar

Meskipun hipotesis efisiensi pasar tampak sederhana dan logis, namun dalam praktiknya tidak mudah untuk menguji apakah suatu pasar benar-benar efisien atau tidak. Hal ini disebabkan oleh berbagai informasi yang bisa mempengaruhi harga pasar, dan tidak semua informasi tersebut bisa diukur atau diamati secara objektif.

Untuk mempermudah pengujian efisiensi pasar, Fama membagi hipotesisnya menjadi tiga bentuk, yaitu:

  • Efisiensi pasar lemah (weak form market efficiency)
  • Efisiensi pasar setengah kuat (semi-strong form market efficiency)
  • Efisiensi pasar kuat (strong form market efficiency)

Masing-masing bentuk diatas menunjukkan tingkat efisiensi pasar yang berbeda, tergantung dari jenis informasi yang digunakan oleh investor untuk membuat keputusan investasi.

Baca juga  3 Teori Trade Off: Pengertian, Asumsi, dan Kritik

Berikut ini merupakan penjelasan singkat tentang ketiga bentuk tersebut.

Efisiensi Pasar Lemah

Bentuk efisiensi pasar paling rendah adalah efisiensi pasar lemah, maksudnya gimana ni?

Ya, bentuk ini mengasumsikan bahwa harga pasar telah mencerminkan semua informasi masa lalu pada suatu aset finansial, sebut saja harga saham atau pola-pola fluktuasi harga yang berasal dari masa lalu.

Jadi, pergerakan harga yang akan datang tidak bisa diprediksi oleh investor hanya dengan menggunakan informasi historis. Semua informasi historis tentang harga sudah tercermin dalam harga pasar saat ini, sehingga dalam efisiensi pasar lemah, para investor tidak bisa menghasilkan keuntungan yang konsisten dengan menggunakan analisis teknikal.

Kita bisa menggunakan metode statistik yang disebut uji ketergantungan serial (serial correlation test) untuk menguji efisiensi pasar lemah. Seberapa besar hubungan antara perubahan harga pada periode sebelumnya dengan perubahan harga pada periode berikutnya bisa diukur menggunakan metode ini. Kita bisa menyimpulkan bahwa harga pasar bersifat acak dan tidak bisa diprediksi dengan menggunakan informasi masa lalu apabila tidak ada hubungan yang signifikan.

Efisiensi Pasar Setengah Kuat

Bentuk efisiensi pasar ini lebih tinggi dari efisiensi pasar lemah sehingga disebut efisiensi pasar setengah kuat. Bentuk ini mengasumsikan bahwa harga pasar mencerminkan semua informasi historis dan semua informasi publik yang tersedia di pasar, seperti laporan keuangan, berita, pengumuman, atau peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan suatu aset finansial.

Dengan demikian, pergerakan harga yang akan datang tidak bisa diprediksi oleh investor hanya dengan menggunakan informasi publik. Karena semua informasi publik tentang aset finansial telah tercermin dalam harga pasar saat ini, maka para investor tidak bisa menghasilkan keuntungan yang konsisten dengan menggunakan analisis fundamental.

Kita bisa menggunakan metode statistik yang disebut uji peristiwa (event study) untuk melakukan pengujian terhadap efisiensi pasar setengah kuat. Seberapa besar dampak dari suatu peristiwa atau pengumuman terhadap perubahan harga pada periode sebelum dan sesudah peristiwa tersebut dapat diukur dengan metode ini.

Kita bisa menyimpulkan bahwa harga pasar sudah menyesuaikan diri dengan informasi baru secara cepat dan akurat apabila dalam hasil pengujian tidak ada dampak yang signifikan.

Efisiensi Pasar Kuat

Bentuk efisiensi pasar tertinggi adalah efisiensi pasar kuat. Bentuk ini mengasumsikan bahwa harga pasar mencerminkan semua informasi historis, semua informasi publik, dan semua informasi privat yang dimiliki oleh sekelompok investor tertentu, seperti manajemen perusahaan, pemegang saham besar, atau analis profesional.

Dengan demikian, informasi privat tidak bisa dijadikan sebagai patokan oleh investor untuk memprediksi pergerakan harga yang akan datang. Dalam efisiensi pasar kuat, semua informasi tentang aset finansial sudah tercermin dalam harga pasar saat ini sehingga para investor tidak bisa menghasilkan keuntungan yang konsisten dengan menggunakan informasi apapun.

Metode statistik yang disebut uji kinerja portofolio (portfolio performance test) bisa dilakukan untuk menguji efisiensi pasar kuat. Seberapa besar tingkat pengembalian yang diperoleh oleh sekelompok investor tertentu dibandingkan dengan tingkat pengembalian rata-rata di pasar, menjadi tolak ukur dari metode ini. Kita bisa menyimpulkan bahwa investor tersebut tidak memiliki keunggulan informasi atau kemampuan analisis yang lebih baik dari investor lain, apabila tidak ada perbedaan yang signifikan.

Bukti Empiris

Setelah memahami bentuk-bentuk efisiensi pasar, Anda mungkin bertanya-tanya apakah teori ini benar-benar berlaku di dunia nyata? Apakah ada bukti empiris yang mendukung atau mengkritik hipotesis efisiensi pasar? Jawabannya ada.

Baca juga  Pemahaman Singkat Tentang Manajemen Keuangan Sektor Publik

Berbagai metode dan data telah digunakan, banyak penelitian juga telah dilakukan untuk menguji efisiensi pasar. Hasil penelitian tersebut bervariasi tergantung pada aset finansial, periode waktu, dan negara yang diteliti. Namun secara umum, kita bisa menyimpulkan beberapa hal berikut:

  • Dibandingkan pasar obligasi atau pasar derivatif, pasar saham cenderung lebih efisien.
  • Di negara-negara maju pasar saham cenderung lebih efisien dibanding di negara-negara berkembang.
  • Pasar saham cenderung lebih dekat ke bentuk efisiensi setengah kuat
  • Anomali atau penyimpangan dari hipotesis efisiensi pasar, seperti efek ukuran (size effect), efek nilai (value effect), efek momentum (momentum effect), atau efek kalender (calendar effect) cenderung terjadi pada pasar saham.
  • Faktor-faktor psikologis atau perilaku investor, seperti overconfidence, overreaction, underreaction, herding, atau framing, cenderung mempengaruhi pasar saham.

Anomali Pasar

Anomali pasar merupakan fenomena yang menunjukkan bahwa ada sekuritas yang memberikan tingkat pengembalian yang abnormal atau tidak sesuai dengan prediksi model efisiensi pasar. Karena menunjukkan bahwa ada peluang arbitrase yang bisa dimanfaatkan oleh investor untuk menbisakan keuntungan yang konsisten, maka anomali pasar bisa dianggap sebagai bukti yang menyanggah hipotesis efisiensi pasar.

Beberapa contoh anomali pasar yang sering ditemukan di pasar saham adalah:

Efek ukuran, fenomena ini menunjukkan bahwa saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang besar (large cap) cenderung memberikan tingkat pengembalian yang lebih rendah dibanding saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil (small cap) cenderung memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil memiliki risiko yang lebih tinggi dan seharusnya memberikan tingkat pengembalian yang lebih rendah, sehingga hal ini bertentangan dengan hipotesis efisiensi pasar.

Efek nilai, fenomena ini menunjukkan bahwa saham-saham dengan rasio harga terhadap nilai buku yang tinggi (growth stocks) cenderung memberikan tingkat pengembalian yang lebih rendah dari pada saham-saham dengan rasio harga terhadap nilai buku (price to book ratio) yang rendah (value stocks) yang cenderung memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.

Seharusnya saham-saham dengan rasio harga terhadap nilai buku yang rendah memiliki kinerja yang lebih buruk dan memberikan tingkat pengembalian yang lebih rendah, sehingga hal ini bertentangan dengan hipotesis efisiensi pasar.

Efek momentum, fenomena ini menunjukkan bahwa saham-saham yang telah mengalami penurunan harga dalam periode tertentu (losers) cenderung terus turun, sedangkan saham-saham yang telah mengalami kenaikan harga dalam periode tertentu (winners) cenderung terus naik. Hal ini bertentangan dengan hipotesis efisiensi pasar, karena seharusnya pergerakan harga masa lalu tidak berpengaruh terhadap pergerakan harga masa depan.

Efek kalender, fenomena ini menunjukkan bahwa ada pola-pola tertentu dalam tingkat pengembalian saham berdasarkan waktu atau periode tertentu, seperti hari dalam seminggu, bulan dalam setahun, atau tahun dalam siklus bisnis. Seharusnya tidak ada hubungan antara waktu atau periode tertentu dengan tingkat pengembalian saham, sehingga hal ini bertentangan dengan hipotesis efisiensi pasar.

Faktor Psikologis

Faktor-faktor yang berhubungan dengan emosi, persepsi, atau preferensi investor dalam membuat keputusan investasi. Sebut saja penyimpangan dari rasionalitas ekonomi dan berpengaruh terhadap perilaku investor. Sehingga hal ini bisa dianggap sebagai bukti yang mendukung hipotesis efisiensi pasar, karena menunjukkan ada faktor-faktor lain selain informasi yang mempengaruhi harga pasar.

Baca juga  Tujuan & Konsep Dalam Manajemen Keuangan Internasional di Jurusan Manajemen Keuangan

Berikut ini contoh faktor psikologis yang seringkali mempengaruhi investor di pasar saham diantaranya:

Overconfidence, kecenderungan investor yang terlalu percaya diri terhadap kemampuan atau informasi yang mereka miliki. Investor yang overconfidence cenderung mengabaikan informasi baru yang bertentangan dengan keyakinan mereka, sehingga mengambil risiko yang terlalu besar, atau melakukan perdagangan yang terlalu sering. Hal ini bisa menyebabkan kerugian atau justru investor melewatkan peluang investasi.

Overreaction, kecenderungan investor yang bereaksi berlebihan terhadap informasi baru yang masuk ke pasar. Tindakan mereka cenderung membeli saham berdasarkan berita baik dan menjual saham yang dikala berita buruk tanpa mempertimbangkan nilai wajar atau fundamental saham tersebut. Hal ini bisa menyebabkan terlalu rendah atau bahkan harga pasar menjadi terlalu tinggi dari nilai wajarnya.

Underreaction, kecenderungan investor yang kurang bereaksi terhadap informasi baru yang masuk ke pasar. Mereka cenderung mengabaikan atau menunda tindakan terhadap informasi baru yang relevan dengan saham yang mereka miliki atau minati. Sehingga mengakibatkan harga pasar menjadi tidak mencerminkan informasi baru secara tepat atau cepat.

Herding, kecenderungan investor untuk mengikuti perilaku atau keputusan investor lain tanpa mempertimbangkan informasi atau analisis sendiri. Mereka cenderung menjual saham yang tidak populer atau turun dan membeli saham yang populer atau naik. Hal ini bisa menyebabkan harga pasar menjadi terdistorsi oleh permintaan atau penawaran yang tidak rasional atau tidak stabil.

Framing, kecenderungan investor yang dipengaruhi oleh cara informasi disajikan atau ditampilkan. Mereka cenderung membuat keputusan investasi berdasarkan aspek-aspek tertentu dari informasi, seperti judul, gambar, warna, atau kata-kata. Hal ini bisa menyebabkan investor mengambil kesimpulan yang tidak lengkap tentang suatu aset finansial atau justru kesimpulan yang salah.

Kesimpulan

Teori efisiensi pasar merupakan teori yang mengasumsikan bahwa harga pasar mencerminkan semua informasi yang tersedia mengenai suatu aset finansial. Teori ini memiliki implikasi penting bagi strategi investasi, karena menunjukkan bahwa investor tidak bisa mengalahkan pasar dengan menggunakan informasi apapun.

Teori ini terdiri dari tiga bentuk, yaitu efisiensi pasar lemah, efisiensi pasar setengah kuat, dan efisiensi pasar kuat. Masing-masing bentuk menunjukkan tingkat efisiensi pasar yang berbeda, tergantung pada jenis informasi yang digunakan oleh investor untuk membuat keputusan investasi.

Berbagai metode dan data telah dilakukan untuk menguji teori ini. Hasil pengujian bervariasi tergantung pada aset finansial, periode waktu, dan negara yang diteliti.

Secara umum, kita bisa menyimpulkan bahwa:

  1. Pasar saham cenderung lebih efisien daripada pasar obligasi atau pasar derivatif
  2. Pasar saham di negara-negara maju cenderung lebih efisien daripada pasar saham di negara-negara berkembang
  3. Pasar saham cenderung lebih dekat ke bentuk efisiensi setengah kuat, pasar saham cenderung menunjukkan anomali atau penyimpangan dari hipotesis efisiensi pasar
  4. Pasar saham cenderung terpengaruh oleh faktor-faktor psikologis atau perilaku investor.

Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat serta menambah wawasan Anda dalam berinvestasi.

Iklan

Melalui buku ini, Anda akan belajar bagaimana Membangun kekayaan Melalui Investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *