Teori Arbitrage Pricing Theory (APT): Pengertian, Asumsi, dan Contoh Penerapannya

Teori arbitrage pricing theory itu apaan sih bro? atau kamu mungkin pernah mendengar istilah arbitrase dalam dunia investasi? Nah, jika demikian, kamu udah datang ke tempat yang pas bro. Jadi, arbitrase semacam strategi untuk mendapatkan keuntungan tanpa risiko dengan memanfaatkan perbedaan harga aset yang sama di pasar yang berbeda.

contohnya gini, jika saham Apple diperdagangkan seharga $120 di bursa NASDAQ dan seharga $120,50 di bursa Frankfurt, maka kamu bisa beli saham Apple di bursa Frankfurt dan menjualnya di bursa NASDAQ, dan mendapatkan keuntungan sebesar $0,50 per saham.

Namun, apakah kamu tahu bahwa ada teori yang bisa ngebantu kamu menentukan harga wajar dari suatu aset dengan menggunakan faktor-faktor makroekonomi yang mempengaruhi risiko aset tersebut? Teori tersebut disebut teori arbitrage pricing theory (APT).

Ini merupakan teori penentuan harga aset yang mengasumsikan bahwa return yang diharapkan dari suatu aset dapat diprediksi dengan menggunakan hubungan linier antara return yang diharapkan dan sejumlah variabel makroekonomi yang mencerminkan risiko sistematis.

Dalam artikel ini, kita akan belajar bersama tentang teori APT, asumsi-asumsi yang mendasarinya, dan contoh penerapannya. Sebelum lanjut, pastikan kamu udah siapin kopi dan camilan renyah biar makin santai, yuk kita mulai.

Daftar isi

Definisi Teori APT

Dikembangkan oleh ekonom Amerika, Stephen Ross, pada tahun 1976, sebagai alternatif dari teori capital asset pricing model (CAPM). Teori ini menyatakan bahwa harga wajar dari suatu aset dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut:

E(Ri​)=Rf​+βi1​E(I1​)+βi2​E(I2​)+…+βin​E(In​)

Dimana:

E(Ri​) adalah return yang diharapkan dari aset ke-i
Rf​ adalah tingkat bunga bebas risiko
βij​ adalah sensitivitas harga aset ke-i terhadap faktor makroekonomi ke-j
E(Ij​) adalah premi risiko yang terkait dengan faktor makroekonomi ke-j
n adalah jumlah faktor makroekonomi yang relevan

Baca juga  Penerapan Manajemen Keuangan Dalam Koperasi

Formula ini menunjukkan bahwa return yang diharapkan dari suatu aset dipengaruhi oleh tingkat bunga bebas risiko dan sejumlah faktor makroekonomi yang memiliki dampak terhadap risiko aset tersebut. Faktor-faktor makroekonomi tersebut dapat berupa inflasi, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), kurs, perubahan tingkat suku bunga, atau faktor lainnya.

Asumsi Dasar

Beberapa asumsi dasar meliputi:

  • Pasar adalah efisien dan tidak ada biaya transaksi atau pajak.
  • Investor adalah rasional dan berusaha memaksimalkan utilitasnya.
  • Investor memiliki ekspektasi yang homogen terhadap return dan risiko aset.
  • Investor dapat melakukan arbitrase tanpa batasan atau hambatan.
  • Tidak ada faktor risiko spesifik yang mempengaruhi harga aset secara signifikan.

Contoh Perhitungan

Berikut ini merupakan contoh perhitungan agar dapat menambah pemahaman kita. Sebut saja kamu ingin menentukan harga wajar dari saham XYZ, yang memiliki return harapan sebesar 15% per tahun. Kamu juga mengetahui bahwa tingkat bunga bebas risiko saat ini adalah 5% per tahun.

Kemudian, kamu mengetahui bahwa ada dua faktor makroekonomi yang mempengaruhi harga saham XYZ, yaitu inflasi dan pertumbuhan PDB. Kamu juga tahu bahwa premi risiko untuk inflasi adalah 4% per tahun, sedangkan premi risiko untuk pertumbuhan PDB adalah 3% per tahun. Selain itu kamu juga tahu bahwa sensitivitas harga saham XYZ terhadap inflasi adalah 0,8, sedangkan sensitivitas harga saham XYZ terhadap pertumbuhan PDB adalah 1,2.

Gunakan formula tadi, kamu dapat menghitung harga wajar dari saham XYZ sebagai berikut:

E(RXYZ​)=Rf​+βXYZ,Inflasi​E(IInflasi​)+βXYZ,PDB​E(IPDB​)
E(RXYZ​)=0,05+0,8×0,04+1,2×0,03
E(RXYZ​)=0,15 atau 15%

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, kamu dapat melihat bahwa harga wajar dari saham XYZ sesuai dengan return harapan yang diberikan. Hal ini berarti bahwa saham XYZ tidak overvalued atau undervalued. Akan tetapi, bila return harapan yang diberikan berbeda (indikasinya lebih besar), maka Anda dapat mengambil kesempatan arbitrase dengan membeli atau menjual saham XYZ sesuai dengan selisihnya.

Baca juga  12+ Jenis Investasi Jangka Panjang, Menengah dan Pendek yang Bisa Dilakukan Oleh Karyawan

Kesimpulan

Teori ini mencakup penentuan harga aset yang mengasumsikan bahwa return yang diharapkan dari suatu aset dapat diprediksi dengan menggunakan hubungan linier antara return yang diharapkan dan sejumlah variabel makroekonomi yang mencerminkan risiko sistematis. Menawarkan alternatif dari teori CAPM, yang hanya menggunakan satu faktor risiko, yaitu risiko pasar.

Beberapa asumsi yang mendasari, efisiensi pasar, rasionalitas investor, ekspektasi homogen, kemungkinan arbitrase, dan tidak adanya risiko spesifik. Dapat digunakan untuk menghitung harga wajar dari suatu aset dengan menggunakan rumus yang melibatkan tingkat bunga bebas risiko, premi risiko makroekonomi, dan sensitivitas harga aset terhadap faktor makroekonomi.

Identifikasi peluang arbitrase dapat dilakukan apabila terdapat perbedaan antara harga pasar dan harga wajar dari suatu aset, dengan demikian, investor akan mendapatkan keuntungan tanpa risiko.

Sekarang kita sudah tiba pada akhir pembahasan, jika kamu punya pendapat berbeda, silahkan sampaikan kolom komentar untuk kita berdiskusi. Semoga bermanfaat dan terima kasih telah membaca hingga selesai!

Iklan

Melalui buku ini, Anda akan belajar bagaimana Membangun kekayaan Melalui Investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *